LALUHAN HUT KAPUAS 2011

Teks dan foto oleh Syamsuddin Rudiannoor, S. Sos

 

 

Rangkaian puncak semarak Hari Jadi kota Kuala Kapuas ke-205 dan Hari Ulang Tahun Pemerintah Kabupaten Kapuas ke-60 Tahun 2011 diakhiri di Pelabuhan Danau Mare Kuala Kapuas sore ini  (25/3/2011) pukul 15.00 sampai 16.30 WIB dengan diadakannya upacara adat Laluhan atau Perang Air Suku Dayak Ngaju.

 

 

Acara yang digelar dikoordinir langsung oleh Kepala Dinas Pemuda, Olah Raga, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kapuas Drs. Edy Lukman Hakim, MM, dihadiri oleh Bupati Kapuas Drs. H. Muhammad Mawardi, MM beserta ibu Aliyah Mawardi, unsur Muspida Kabupaten Kapuas, para kepala dinas / instansi Kabupaten Kapuas, para tokoh masyarakat, tokoh adat serta masyarakat kota Kuala Kapuas dan sekitarnya.

 

 

Deskripsi Laluhan

Dayak Pos Online dalam tema Budaya Kalteng  mendeskripsikan “Laluhan” sebagai Perang Air Suku Dayak Ngaju.  Budaya Laluhan ini merupakan sebuah rangkaian prosesi upacara adat suku Dayak di Kalimantan Tengah yang biasanya satu rangkaian dengan acara-acara tertentu misalnya Tiwah.

 

Suasana perang air tahun ini di depan Pelabuhan Danau Mare Kuala Kapuas merupakan bagian dari rangkaian upacara adat Mamapas Lewu Kapuas yang merupakan bagian dari perayaan hari ulang tahun kota Kuala Kapuas dan pemerintah kabupaten Kapuas.

 

Tentu kejadian ini bukan perang dalam arti peperangan yang sesungguhnya karena alat perang yang digunakan adalah tombak dari batang suli yang sudah ditumpulkan ujung-ujungnya. Perang-perangan di atas air yang diperagakan warga setempat ini  merupakan salah satu kegiatan atraksi warisan budaya asli suku Dayak Ngaju Kuala Kapuas yang secara turun temurun sudah dikenal dengan istilah “Laluhan”.

 

Budaya Laluhan juga sering disebut sebagai tradisi perang air suku Dayak Ngaju sebagai penduduk asli yang mendiami Bumi Tambun Bungai (Kalimantan Tengah), perang air atau perang danom (baca; danum) dalam bahasa lokal. Kegiatan perang air suku Dayak Ngaju ini sebagai simbol, begitu gigihnya warga Dayak dalam mempertahankan wilayahnya dari gangguan musuh, atau sebagai simbol betapa gigihnya warga setempat memerangi kemiskinan dan keterbelakangan agar menjadi sebuah masyarakat yang maju dalam upaya memajukan pembangunan di wilayah Kalteng.

Bagi warga suku Dayak Ngaju Kalteng, tradisi upacara bernama Laluhan tersebut berkaitan dengan acara yang disebut Tiwah atau semacam upacara pengangkatan tulang belulang seseorang yang sudah meninggal dan dikubur, kemudian dipindahkan ke suatu bangunan kecil yang disebut Sandung.

Upacara ini terkait dengan kepercayaan nenek moyang orang Dayak Ngaju setempat “Kaharingan” sebagai  agama orang dayak asli sebagai asal mula agama atau kepercayaan Suku Dayak Ngaju .Guna memindahkan tulang belulang tersebutlah maka dilakukan acara yang dikenal Laluhan tadi.

Pos ini dipublikasikan di KEBUDAYAAN. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s